
Noesantaranews — Syaikh Nawawi al-Bantani terus bersinar sebagai salah satu ulama terbesar yang pernah lahir dari bumi Indonesia. Lahir di Tanara, Serang, Banten, pada 1813, beliau kemudian dikenal di dunia Islam internasional sebagai “Sayyid Ulama al-Hijaz” karena kedalaman ilmunya dan kontribusinya dalam membimbing para penuntut ilmu di Tanah Suci.
Perjalanan dari Tanara ke Tanah Suci
Sejak kecil, Syaikh Nawawi al-Bantani dikenal memiliki kecerdasan luar biasa. Setelah menimba ilmu dari para ulama Banten, beliau melanjutkan perjalanan ke Makkah di usia belasan. Di sana ia belajar kepada ulama-ulama terkemuka, di antaranya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Umar al-Syami.
Keistiqamahannya membuat Nawawi tidak hanya menjadi murid, tetapi kemudian menjadi guru besar yang dihormati di Masjidil Haram. Ribuan pelajar dari Nusantara, Timur Tengah, Afrika, hingga Asia Selatan berguru kepadanya.
Karya-Karya yang Membentang Zaman
Syaikh Nawawi al-Bantani dikenal sangat produktif. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 100 kitab yang membahas tafsir, fikih, tasawuf, akhlak, hingga tata bahasa Arab. Beberapa karya monumental yang hingga kini dipelajari di pesantren dan lembaga pendidikan Islam di berbagai negara antara lain:
- Tafsir Marah Labid (Tafsir al-Munir)
Merupakan salah satu kitab tafsir klasik yang menjadi rujukan ulama Asia Tenggara. - Nihayatuz Zain
Kitab fikih madzhab Syafi’i yang masih menjadi pegangan santri dan kyai. - Uqudul Lujain
Karya tentang akhlak suami-istri yang populer di dunia pesantren. - Sulam al-Fudhola dan Qami’ at-Thugyan
Karya moralitas dan akhlak yang relevan sepanjang masa.

Hingga kini, kitab-kitab Nawawi menjadi kurikulum wajib di banyak pesantren di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand Selatan, bahkan Afrika Utara.
Guru dari Para Pendiri Ulama Nusantara
Pengaruh Syaikh Nawawi begitu luas. Banyak tokoh besar yang berguru kepadanya, di antaranya:
- KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama
- KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah
- Para ulama asal Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan yang kemudian menjadi tokoh sentral perkembangan Islam di Nusantara
Karena pengaruh keilmuannya, banyak kalangan menyebut Nawawi sebagai “Imam Nawawi-nya Nusantara”.
Warisan yang Terus Hidup
Lebih dari seabad setelah wafatnya pada 1897, Syaikh Nawawi tetap menjadi sumber inspirasi. Kitab-kitabnya dicetak ulang, diajarkan di majelis taklim, serta menjadi rujukan dalam diskursus keagamaan modern.
Di tengah perkembangan zaman, warisan intelektual Nawawi membuktikan bahwa ilmu yang ditulis dengan keikhlasan dapat melampaui generasi, batas negara, dan perbedaan budaya.




