
Noesantaranews — Di tengah puing-puing bangunan yang hancur dan tenda-tenda darurat yang berdiri di atas tanah berdebu, cahaya kecil mulai menyala. Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap menyambut bulan suci Ramadan dengan cara yang sederhana namun penuh makna: menghiasi reruntuhan dengan lampion buatan tangan dan dekorasi warna-warni.
Melansir Quds News Network, suasana Ramadan mulai terasa di sejumlah wilayah Gaza meski kondisi kemanusiaan masih memprihatinkan akibat perang yang berkepanjangan.
Ramadan tahun ini diperkirakan akan dimulai pada 18 atau 19 Februari. Bagi warga Gaza, ini menjadi Ramadan ketiga yang dijalani dalam bayang-bayang konflik dan blokade. Meski dikelilingi kehancuran, semangat menyambut bulan suci tak pernah padam.
Jalan-jalan yang sebelumnya porak-poranda kini dihiasi lentera tradisional dan untaian lampu kecil. Warna-warni dekorasi menggantung di antara bangunan yang runtuh, menciptakan kontras yang menyentuh antara duka dan harapan.
Baca Juga : Palestina dan Tradisi Hafalan Al-Qur’an di Tengah Konflik Berkepanjangan
Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari seorang anak Gaza bernama Mohammad Sabry Al-Fouj, yang membuat lampion Ramadan tradisional dari kaleng soda bekas.
Karyanya bukan sekadar hiasan. Itu adalah simbol daya tahan. Di tengah pembatasan masuknya berbagai barang ke wilayah tersebut, termasuk dekorasi Ramadan, anak-anak dan orang dewasa memanfaatkan apa yang tersedia untuk menjaga tradisi tetap hidup.
Lampion-lampion buatan tangan itu kini menggantung di lorong-lorong sempit, di depan tenda pengungsian, bahkan di antara puing-puing rumah yang telah rata dengan tanah.
Ramadan di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Masih menurut laporan Quds News Network, Ramadan kali ini berlangsung di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil. Bantuan kemanusiaan disebut masih terbatas, sementara warga tetap berupaya menjalani ibadah dengan penuh khusyuk.
Namun, bagi warga Gaza, Ramadan bukan sekadar tentang kondisi fisik di sekitar mereka. Ini tentang menjaga iman, tradisi, dan rasa kebersamaan.
Di dalam tenda-tenda pengungsian, keluarga menggantung lentera kecil di pintu masuk. Anak-anak membantu memasang dekorasi seadanya. Aroma makanan sederhana untuk sahur dan berbuka mulai kembali terasa.
“Ramadan adalah cahaya,” ujar seorang warga setempat dalam laporan tersebut. “Walau kami hidup di antara reruntuhan, kami tetap ingin anak-anak merasakan kegembiraan bulan suci.”
Harapan yang Terus Menyala
Di Gaza, lampion bukan hanya simbol perayaan. Ia menjadi lambang harapan yang terus bertahan di tengah kesulitan.
Ketika malam turun dan lampu-lampu kecil itu menyala di antara puing-puing beton, Gaza menunjukkan kepada dunia bahwa semangat hidup dan keyakinan tak mudah dipadamkan.
Di tengah kehancuran, cahaya Ramadan tetap bersinar.




