
Noesantaranews, PURWAKARTA —Di tengah ambisi Indonesia menuju “era digital” dan internet harga rakyat, sebuah fenomena unik muncul di permukiman warga: jaringan fiber optik RumahNet menyebar seperti tanaman liar yang tumbuh tanpa diundang. Bedanya, tanaman liar butuh tanah—RumahNet cukup butuh tembok rumah orang dan “izin misterius” yang entah datang dari mana.
Dalam beberapa hari, kabel-kabel itu bermunculan di gang-gang kecil seperti jemuran menjelang Idul Fitri: panjang, penuh, dan saling tindih. Warga pun kebingungan, sebab pemasangan jaringan Rumahnet ini muncul tanpa sosialisasi resmi.
“Ini internet atau dekorasi kemerdekaan?”
— ujar salah satu warga.
Izin Misterius & Bisik-Bisik Amplop
Menurut informasi lapangan, proses instalasi disebut berjalan tanpa kejelasan izin dari pemerintah daerah. Lebih menarik lagi, beredar kabar bahwa oknum perangkat desa menerima “uang pelicin” sekitar Rp 8 juta dari Rumahnet untuk melancarkan proyek.
Nilainya cukup besar untuk sebuah izin yang sebenarnya bukan wewenang RT atau RW.
Ironisnya, proyek ini kadang disampaikan ke warga sebagai “internet pemerintah”, padahal tidak ada satu pun dokumen legal yang menegaskan keterkaitannya dengan program Internet Rakyat milik pemerintah pusat.
Dengan kata halus: mirip nama, beda asal-usulnya.
Dengan gaya satir: label rakyat, kabel rakyat… izinnya rakyat yang mana?
Dampak di Lapangan
Beberapa titik di Purwakarta melaporkan kondisi berikut:
- Kabel ditempel di tembok rumah warga tanpa SOP
- Estetika gang berubah seperti museum instalasi seni dadakan
- Tidak ada sosialisasi formal kepada warga
- RT/RW disebut “menyetujui”, namun tanpa dasar hukum
- Provider tidak bisa menunjukkan izin PUPR, Kominfo, atau perizinan terpadu
Seorang warga berkomentar:
“Kami mau internet cepat, bukan kabel tercepat nempel di rumah orang.”
Peringatan
Warga diminta waspada terhadap provider yang datang membawa kabel lebih cepat daripada dokumen perizinan.
Jika ada pihak yang berkata:
“Sudah ada izin kok, tenang aja…”
…tetapi tidak bisa menunjukkan satu pun surat resmi, maka perlu dipertanyakan:
Yang resmi itu izinnya, atau senyumnya?

STRATEGI: TEMPEL TEMBOK WARGA
Beberapa warga melaporkan pemasangan kabel langsung ditempel ke dinding rumah.
Konsep unik ini tampaknya mengusung filosofi:
“Jika bisa ditempel, kenapa harus ditata?”
Hasilnya?
Gang sempit berubah menjadi pameran seni instalasi modern.
Tema: Kabelku, Estetikamu?
ATTENTION WARGA!
Jika tiba-tiba di depan rumah Anda muncul kabel baru, tiang baru, atau makhluk panjang berwarna hitam yang melintang di udara…
Tenang dulu.
Itu bukan ular titan.
Itu hanya jaringan provider yang konon “resmi”—meski izinnya masih malu-malu muncul ke publik.
⚠ Warga diminta waspada terhadap provider yang datang membawa kabel lebih cepat daripada izin.
Jika sebuah proyek memakai kalimat,
“Sudah ada izin kok, tenang aja…”
namun tidak bisa menunjukkan selembar pun surat resmi…
…maka masyarakat perlu bertanya:
Yang resmi itu izinnya, atau senyumnya?
Sebagai bangsa besar, kita tentu mendukung internet murah.
Tapi kalau caranya seperti ini, nanti Indonesia bukan jadi negara digital…
melainkan negara kabel optik bergelantungan yang viral di TikTok.
Penutup

Tidak ada yang menolak internet murah.
Tidak ada yang menolak kemajuan digital.
Tapi kalau pemasangannya lebih mirip seni instalasi liar daripada proyek resmi, jangan-jangan Indonesia nanti bukan jadi negara digital—
melainkan negara kabel optik bergelantungan yang viral di TikTok.
Sumber : cyber88.go.id






