
Noesantaranews – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menunjukkan ekspresi terkejut saat menerima laporan biaya pembangunan fasilitas air bersih di wilayah terdampak bencana di Aceh Tamiang. Momen tersebut terjadi ketika Presiden meninjau langsung progres penanganan pascabencana sekaligus memimpin rapat koordinasi bersama jajaran kementerian dan TNI.
Dalam tayangan video yang beredar luas, Prabowo tampak heran ketika mendengar biaya pembangunan satu titik sumur bor di lokasi bencana hanya berkisar Rp100 juta hingga Rp150 juta. Angka tersebut dinilai jauh lebih murah dibandingkan estimasi umum proyek serupa di kondisi normal, apalagi di wilayah yang baru saja dilanda bencana.
Reaksi spontan Presiden itu sontak memancing suasana cair dalam rapat. Kepala Staf TNI Angkatan Darat Maruli Simanjuntak terlihat tertawa saat Prabowo melontarkan pertanyaan lanjutan terkait komponen biaya proyek tersebut.
“Sudah termasuk semua? Tenaga kerjanya dibayar atau bagaimana?” ujar Prabowo dengan nada heran, yang kemudian disambut gelak tawa peserta rapat.
Proyek Air Bersih Jadi Prioritas Pascabencana
Penyediaan air bersih menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam penanganan darurat dan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang. Wilayah ini diketahui terdampak banjir dan longsor akibat intensitas hujan tinggi yang melanda sejumlah daerah di Sumatra pada akhir Desember hingga awal Januari.
Dalam laporan yang diterima Presiden, sumur bor dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama di lokasi pengungsian dan permukiman yang sistem air bersihnya rusak akibat bencana. Pengerjaan dilakukan secara cepat dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI.
Prabowo menegaskan bahwa proyek-proyek kemanusiaan seperti ini tidak boleh terhambat oleh prosedur yang berbelit. Ia meminta agar seluruh pihak terkait bekerja dengan prinsip cepat, efisien, dan tepat sasaran, selama tetap menjaga kualitas dan keselamatan.
“Kita bicara soal kebutuhan dasar rakyat. Air bersih itu urgen. Kalau bisa cepat dan murah tapi kualitasnya baik, kenapa tidak?” tegas Presiden.

KSAD: Efisiensi Berkat Keterlibatan TNI
Menanggapi keterkejutan Presiden, KSAD Maruli Simanjuntak menjelaskan bahwa rendahnya biaya proyek tidak lepas dari pola kerja lapangan yang mengedepankan efisiensi. Keterlibatan personel TNI dalam pengerjaan teknis, distribusi logistik, hingga pengamanan lokasi membuat biaya operasional bisa ditekan.
Selain itu, penggunaan peralatan milik negara dan koordinasi lintas instansi juga menjadi faktor penting dalam menekan anggaran. “Yang penting hasilnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujar Maruli dalam rapat tersebut.
Pendekatan ini sejalan dengan arahan Presiden agar penanganan bencana tidak hanya cepat, tetapi juga transparan dan akuntabel. Prabowo bahkan meminta agar model efisiensi seperti ini bisa menjadi contoh untuk proyek-proyek serupa di daerah lain.
Pemerintah Tekankan Pengawasan dan Keberlanjutan
Meski mengapresiasi biaya proyek yang relatif murah, Prabowo tetap mengingatkan pentingnya pengawasan. Ia menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas, terutama untuk fasilitas vital seperti air bersih.
Presiden juga meminta laporan berkala mengenai kondisi sumur bor yang telah dibangun, termasuk kualitas air dan daya tahannya dalam jangka panjang. Menurutnya, proyek di wilayah bencana harus dirancang tidak hanya untuk kebutuhan darurat, tetapi juga mendukung pemulihan jangka menengah masyarakat.
“Kita ingin rakyat tidak hanya selamat hari ini, tapi bisa hidup normal kembali setelah bencana,” ujar Prabowo.
Simbol Gaya Kepemimpinan di Lapangan
Momen keterkejutan Presiden Prabowo atas murahnya biaya proyek ini dinilai banyak pihak sebagai gambaran gaya kepemimpinan yang detail dan langsung menyentuh persoalan teknis. Ia tidak ragu mempertanyakan angka, meminta penjelasan rinci, sekaligus memberi arahan tegas di lapangan.
Bagi warga Aceh Tamiang, perhatian langsung dari Presiden dan percepatan pembangunan fasilitas dasar menjadi harapan baru di tengah upaya bangkit dari bencana. Pemerintah memastikan bahwa penanganan darurat akan terus berlanjut hingga seluruh kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Sumber : Kompas.com






