
Noesantaranews – Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu kejadian paling agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian diangkat menembus lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Perjalanan luar biasa ini bukan sekadar mukjizat yang melampaui logika manusia, melainkan bentuk penguatan iman Rasulullah SAW di tengah fase paling berat dalam dakwahnya. Isra Mi’raj hadir sebagai pengingat abadi bahwa di balik kesulitan dan kesedihan, selalu ada pertolongan Allah yang datang dengan cara yang tidak terduga.
Latar Sejarah: Isra Mi’raj di Tengah Tahun Kesedihan
Isra Mi’raj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan. Pada periode ini, beliau kehilangan dua sosok paling berpengaruh dalam hidup dan dakwahnya: Khadijah RA, istri sekaligus pendukung setia, serta Abu Thalib, paman yang memberikan perlindungan politik dan sosial.
Tekanan dari kaum Quraisy semakin berat, sementara dukungan moral seakan menghilang. Dalam kondisi itulah, Allah SWT memuliakan Rasul-Nya dengan perjalanan Isra Mi’raj sebagai penguatan batin dan spiritual.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan bentuk penghormatan Allah kepada Rasulullah SAW setelah penderitaan panjang. Peristiwa ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersabar dan tetap istiqamah di jalan kebenaran.
Isra: Perjalanan Bumi ke Bumi yang Sarat Makna
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Secara geografis, perjalanan ini menegaskan hubungan spiritual antara dua tempat suci yang menjadi fondasi sejarah Islam.
Masjidil Aqsa memiliki kedudukan istimewa dalam akidah Islam, bukan hanya sebagai kiblat pertama, tetapi juga sebagai simbol kesatuan umat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Isra terjadi secara nyata atas kehendak Allah SWT, sebagai mukjizat yang melampaui batas logika manusia, namun wajib diimani oleh kaum mukmin.
Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa iman tidak selalu bergantung pada rasionalitas semata, melainkan pada keyakinan terhadap kekuasaan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mi’raj: Perjalanan Langit dan Dialog Kenabian
Setelah Isra, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj—diangkat ke langit dan bertemu para nabi terdahulu. Puncak perjalanan ini adalah ketika beliau mencapai Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau makhluk lain.
Dalam momen inilah, Rasulullah SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol kenaikan derajat ruhani manusia yang mendekat kepada Allah melalui ketaatan, kesucian hati, dan keikhlasan ibadah.
Shalat: Hadiah Langit untuk Umat Islam
Perintah shalat lima waktu menjadi inti dari peristiwa Isra Mi’raj. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam, sebelum akhirnya diringankan menjadi lima waktu dengan pahala yang tetap setara.
Imam Al-Ghazali menyebut shalat sebagai mi’rajul mu’min—mi’rajnya orang beriman. Artinya, setiap shalat adalah kesempatan bagi seorang hamba untuk “naik” mendekat kepada Allah, meninggalkan sejenak hiruk-pikuk dunia, dan menenangkan jiwa.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, shalat menjadi pusat keseimbangan spiritual yang menjaga ketenangan batin.
Hikmah Isra Mi’raj dalam Kehidupan Modern
Isra Mi’raj mengajarkan nilai-nilai universal yang relevan lintas zaman, antara lain:
- Kesabaran selalu mendahului pertolongan Allah
- Iman diuji di saat sulit, bukan saat lapang
- Shalat adalah sumber ketenangan jiwa dan disiplin hidup
Menariknya, para ulama lintas disiplin ilmu juga menekankan pentingnya keteraturan. Al-Khawarizmi, misalnya, menekankan konsep nizham atau keteraturan dalam berpikir—nilai yang selaras dengan disiplin shalat lima waktu.
Sementara Imam Sibawaih menunjukkan bahwa ketepatan struktur bahasa mencerminkan keteraturan akal. Dalam konteks ibadah, shalat juga mengajarkan ketertiban gerak, bacaan, dan niat.
Pesan Sosial dan Kemanusiaan di Balik Isra Mi’raj
Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi juga membawa pesan bumi yang kuat, di antaranya:
- Keteguhan dalam menghadapi penolakan
- Akhlak mulia dalam berdakwah
- Kepedulian terhadap umat dan masyarakat
Perjalanan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keteguhan iman, kesucian niat, dan konsistensi dalam kebaikan.
Penutup : Mi’raj yang Terus Hidup dalam Setiap Sujud
Isra Mi’raj adalah undangan spiritual yang terus hidup hingga hari ini. Ia mengingatkan umat Islam bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jembatan antara langit dan bumi, antara hamba dan Rabb-nya.
Dalam setiap sujud, seorang mukmin sejatinya sedang menapaki mi’raj kecil—mengangkat doa, harapan, dan luka untuk diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.






