
Noesantaranews — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan keseriusannya untuk membangun sebuah kampung khusus bagi warga terdampak banjir bandang di Kota Padang, Sumatera Barat. Hal ini disampaikan setelah ia meninjau langsung lokasi terdampak pada Kamis (4/12/2025). Ia meminta Pemerintah Kota Padang menyiapkan lahan agar proses pembangunan bisa segera dimulai.
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, membenarkan permintaan tersebut dan menjelaskan bahwa Pemkot Padang kini berupaya mengidentifikasi lahan yang dianggap paling layak untuk menampung hunian permanen bagi para korban.
Ribuan Warga Kehilangan Rumah
Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Barat pada akhir November 2025 menimbulkan kerusakan besar. Ribuan rumah warga hilang atau rusak parah, sementara sebagian lainnya tidak lagi layak huni. Pemerintah provinsi mencatat kerugian akibat bencana tersebut mencapai sekitar Rp1,78 triliun.
Sebagian korban saat ini masih tinggal di rumah susun sementara (rusus) yang berada di Kecamatan Koto Tangah. Meski demikian, hunian tersebut hanya bersifat darurat. Pemerintah daerah menilai dibutuhkan hunian permanen untuk memastikan stabilitas jangka panjang bagi para penyintas.
Rencana Kampung Baru : Dari Darurat ke Hunian Permanen
Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk membantu warga Padang dengan menyediakan hunian layak. Menurutnya, kampung baru ini akan menjadi solusi permanen sekaligus upaya pemulihan sosial dan ekonomi bagi masyarakat terdampak. Ia menargetkan fasilitas yang dibangun nantinya tidak hanya berupa rumah, tetapi juga sarana yang mendukung kehidupan warga, seperti akses pendidikan, kesehatan, dan ruang komunal.
Wakil Wali Kota Padang menyebut bahwa pihaknya terbuka bekerja sama dalam penyediaan lahan. Identifikasi lokasi dinilai menjadi tahap terpenting agar pembangunan tidak terburu-buru dan tetap memperhatikan aspek keselamatan serta jarak dari wilayah rawan bencana.

Lahan, Regulasi, dan Mitigasi Bencana
Meski rencana tersebut mendapat apresiasi publik, sejumlah tantangan perlu ditangani sebelum kampung baru dapat direalisasikan. Di antaranya:
- Ketersediaan lahan yang aman dari ancaman banjir dan longsor.
- Prosedur perizinan dan perencanaan tata ruang yang harus diselesaikan sesuai ketentuan.
- Pendanaan dan koordinasi lintas daerah.
- Penerapan standar mitigasi bencana untuk menghindari risiko serupa di masa depan.
Pengamat kebencanaan menilai relokasi korban ke kawasan baru harus disertai kajian geologi, pemetaan wilayah aman, serta pelibatan warga dalam proses perencanaan agar hunian yang dibangun benar-benar berkelanjutan.
Harapan Warga dan Pemerintah
Warga terdampak menyambut baik rencana pembangunan kampung baru ini. Banyak korban berharap memiliki rumah permanen agar dapat memulai kehidupan dari awal tanpa rasa khawatir.Dedi Mulyadi, Pemerintah daerah dan sejumlah lembaga sosial menilai inisiatif ini sebagai bentuk solidaritas antarprovinsi yang dapat mempercepat pemulihan pasca-bencana.
Kesimpulan
Usulan pembangunan kampung baru untuk korban banjir bandang Padang menjadi langkah penting dalam upaya pemulihan jangka panjang. Jika terlaksana dengan baik, kampung tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal baru, tetapi juga simbol kebangkitan masyarakat setelah bencana besar. Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan kini bergerak memastikan rencana ini dapat diwujudkan secara tepat, aman, dan berkelanjutan.
Sumber : Liputan6






