
Noesantaranews — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru terkait dampak erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Letusan yang terjadi pada Rabu (19/11/2025) tersebut menyebabkan tiga warga mengalami luka berat, sementara lebih dari 204 hektare lahan pertanian rusak diterjang material vulkanik dan awan panas.
Dampak Langsung Erupsi: Tiga Warga Luka Berat
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa tiga warga yang mengalami luka berat telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan intensif. Para korban terkena paparan awan panas dan material pijar yang meluncur dari puncak Semeru.
Selain korban luka, ratusan warga harus meninggalkan rumah karena intensitas letusan yang meningkat.
528 Warga Mengungsi di Dua Lokasi
Hingga Minggu (23/11/2025), 528 warga terpaksa mengungsi dari desa-desa di sekitar lereng Semeru. Dua lokasi utama pengungsian yang digunakan adalah:
- SMP Negeri 02 Pronojiwo — 307 jiwa
- SDN 04 Supiturang — 221 jiwa
Meski tinggal di tenda dan ruang darurat, sebagian warga masih kembali ke desa pada siang hari untuk membersihkan rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih dapat digunakan.
Desa Paling Terdampak: Supiturang, Oro-Oro Ombo, dan Penanggal
Material vulkanik terbawa angin hingga menutup permukiman di tiga desa berikut:
- Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo
- Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo
- Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro
Ketiga desa tersebut merupakan wilayah yang berulang kali terdampak awan panas Semeru, mengingat lokasinya yang berada di jalur aliran piroklastik.
Kerusakan Lahan Mencapai 204,63 Hektare
Pendataan BNPB menunjukkan bahwa 204,63 hektare lahan pertanian rusak akibat erupsi. Material abu tebal menutupi ladang, merusak tanaman produktif, dan mengancam mata pencaharian warga yang mayoritas bekerja sebagai petani.
Selain lahan pertanian, kerusakan lain yang tercatat meliputi:
- 21 rumah rusak berat
- 1 fasilitas pendidikan rusak
- 1 fasilitas kesehatan rusak
- 1 gardu PLN rusak, yang menyebabkan gangguan aliran listrik di beberapa titik
Bantuan Logistik Dikucurkan
BNPB bersama Komisi VIII DPR RI menyalurkan sejumlah bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Bantuan yang sudah didistribusikan meliputi:
- 300 matras
- 300 terpal
- 300 selimut
- 200 boks masker
- 150 paket alat kebersihan
- 200 paket sembako
- 1.000 makanan siap saji
Bantuan ini difokuskan untuk warga yang tinggal di desa-desa paling terdampak abu vulkanik.
Kolom Letusan Capai 2.000 Meter, Awan Panas Meluncur 7 Kilometer
Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan bahwa letusan pada 19 November memunculkan kolom abu setinggi 2.000 meter dari puncak Semeru. Awan panas guguran meluncur sejauh sekitar 7 kilometer ke arah tenggara, yang menjadi salah satu pemicu evakuasi besar-besaran.
BNPB terus memantau aktivitas vulkanik mengingat Semeru masih berada dalam kondisi labil. Otoritas meminta warga untuk menjauhi kawasan rawan bencana dan mengikuti instruksi petugas lapangan.
Pemulihan Jangka Panjang Menjadi Tantangan
Dampak erupsi tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menghantam sektor pertanian — sumber pendapatan utama warga di lereng Semeru. Proses rehabilitasi lahan diperkirakan membutuhkan waktu panjang, terutama di wilayah yang tertutup material vulkanik lebih dari 10 sentimeter.
Pemerintah daerah dan BNPB menyusun rencana pemulihan, termasuk:
- Restorasi lahan dan irigasi pertanian
- Penyaluran bantuan bibit
- Pembersihan infrastruktur jalan dan fasilitas publik
- Pendampingan trauma healing bagi pengungsi
Kesimpulan
Erupsi Gunung Semeru pada akhir November ini kembali mengingatkan tingginya risiko aktivitas vulkanik di Pulau Jawa. Meski tak menimbulkan korban jiwa, kerusakan lahan, infrastruktur, dan kondisi pengungsian menjadi pekerjaan besar yang harus ditangani pemerintah pusat dan daerah.
BNPB menegaskan akan terus memberikan pendampingan dan memastikan warga terdampak mendapatkan bantuan yang memadai hingga kondisi aman.
Sumber : BNPB






