
NOESANTARANEWS – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke Iran dari wilayah negara-negara Arab di Teluk Persia. Namun, laporan tersebut langsung dibantah oleh pihak-pihak terkait.
Informasi ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal yang menyebut militer AS menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah, termasuk sistem ATACMS dan HIMARS. Peluncuran diduga dilakukan dari wilayah Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga : Iran Luncurkan Rudal Sejjil Pertama Kali ke Israel, Targetkan Pusat Militer Israel
Serangan tersebut diklaim menargetkan fasilitas militer serta pangkalan angkatan laut Iran. Aksi ini disebut sebagai respons atas serangan drone dan rudal yang sebelumnya diarahkan ke kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Laporan tersebut diperkuat oleh video yang telah diverifikasi oleh Storyful. Rekaman itu menunjukkan indikasi bahwa sebagian peluncuran rudal memang berasal dari wilayah Bahrain. Meski demikian, hingga kini pihak militer AS belum memberikan konfirmasi resmi terkait lokasi spesifik peluncuran.
Bahrain Bantah AS Luncurkan Rudal ke Iran
Pemerintah Bahrain secara tegas membantah keterlibatan dalam serangan tersebut. Otoritas setempat menegaskan tidak ada operasi militer yang diluncurkan dari wilayah mereka ke Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyampaikan klaim berbeda. Ia menyebut serangan AS juga diluncurkan dari dua titik di wilayah UEA, yakni Ras Al-Khaimah dan lokasi yang disebut sangat dekat dengan Dubai.
Menurut Araqchi, target serangan mencakup Pulau Kharg dan Pulau Abu Musa, yang merupakan dua titik strategis Iran di kawasan Teluk Persia. Ia juga memperingatkan bahwa tindakan tersebut berpotensi meningkatkan eskalasi konflik di kawasan.
Baca Juga : Serangan Rudal Iran Diklaim Sasar 3 Lokasi Komandan AS dan Israel
Meski demikian, Iran menegaskan akan menghindari serangan balasan ke wilayah sipil. Araqchi menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.
Situasi ini dinilai berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah yang selama ini sudah berada dalam kondisi rentan. Dugaan keterlibatan wilayah negara-negara Teluk, meskipun dibantah, dapat memicu ketegangan diplomatik yang lebih luas.
Sejumlah pengamat menilai, jika peluncuran rudal benar dilakukan dari wilayah negara Arab, maka risiko konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak pihak akan semakin besar, terutama dalam dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.





