
Noesantaranews — Insiden keamanan yang terjadi di area tambang emas milik PT Sultan Rafli Mandiri (SRM) pada 14 Desember 2025 terus menjadi sorotan publik. Peristiwa ini mencuat setelah beredar unggahan di media sosial yang menampilkan kerusakan kendaraan operasional perusahaan disertai narasi dugaan bentrokan di kawasan tambang.
Informasi awal mengenai insiden tersebut pertama kali dibagikan melalui akun Facebook bernama Lhynaa Marlinaa, dan kemudian menyebar luas di berbagai platform digital. Unggahan itu memicu perhatian publik karena menyebut adanya keterlibatan tenaga kerja asing (TKA) dan aparat negara.
PT SRM Tegaskan Tidak Ada Penyerangan terhadap TNI
Menanggapi isu yang berkembang, manajemen PT Sultan Rafli Mandiri secara resmi memberikan klarifikasi. Dalam laporan CNN Indonesia, pihak perusahaan menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.
“Tidak benar ada penyerangan terhadap TNI oleh TKA China seperti yang beredar di media sosial,” ujar perwakilan manajemen SRM sebagaimana dikutip CNN Indonesia. Perusahaan menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan gangguan keamanan internal yang kemudian ditangani sesuai prosedur dengan melibatkan aparat setempat.
Pihak SRM juga menekankan bahwa tidak ada konflik bersenjata sebagaimana narasi yang ramai beredar, dan perusahaan sejak awal bersikap kooperatif dengan aparat penegak hukum.
Kerusakan Kendaraan Diakui, Kronologi Masih Didalami

PT SRM membenarkan adanya kerusakan pada kendaraan operasional perusahaan. Namun, perusahaan menyebut kerusakan tersebut terjadi dalam konteks pengamanan dan bukan akibat penyerangan terencana terhadap aparat negara.
“Memang ada kendaraan yang rusak, tetapi kejadian tersebut tidak seperti yang digambarkan secara berlebihan di media sosial,” lanjut pernyataan SRM.
Hingga kini, kronologi detail insiden masih dalam proses pendalaman oleh aparat penegak hukum guna memastikan rangkaian kejadian secara utuh dan objektif.
Aparat dan Imigrasi Lakukan Pemeriksaan
Seiring mencuatnya isu ini, aparat keamanan bersama Kantor Imigrasi Ketapang turut melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah warga negara asing yang berada di lokasi tambang. Pemeriksaan difokuskan pada aspek administratif keimigrasian serta klarifikasi aktivitas para pekerja asing di kawasan tersebut.
Aparat menegaskan bahwa proses ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum serta untuk meluruskan berbagai klaim yang berkembang di ruang publik. Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kesimpulan resmi yang diumumkan kepada publik.
Imbauan Agar Publik Tidak Berspekulasi
Pengamat komunikasi publik mengingatkan masyarakat agar tidak menarik kesimpulan prematur dari informasi yang bersumber dari media sosial. Isu yang menyangkut keamanan, tenaga kerja asing, dan aparat negara dinilai sensitif dan memerlukan verifikasi berlapis.
Pihak perusahaan dan aparat pun meminta publik menunggu hasil penyelidikan resmi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
Redaksi akan terus memantau perkembangan kasus ini dan menyampaikan pembaruan setelah ada pernyataan resmi lanjutan dari aparat penegak hukum maupun pihak perusahaan.
Sumber : CNNindonesia






