
Noesantaranews – Serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Jumat, 31 Januari 2026. Puluhan warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam salah satu eskalasi paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan beberapa bulan terakhir. Insiden ini kembali memicu perhatian internasional terhadap rapuhnya kesepakatan penghentian permusuhan di wilayah tersebut.
Puluhan Warga Sipil Jadi Korban
Berdasarkan data otoritas kesehatan di Gaza, sedikitnya 30 warga sipil meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Serangan dilaporkan menyasar sejumlah lokasi padat penduduk, termasuk kawasan permukiman dan area pengungsian.
Rumah sakit di Gaza City serta wilayah selatan Gaza dilaporkan kewalahan menangani korban. Keterbatasan fasilitas medis, pasokan obat-obatan, dan energi listrik memperburuk penanganan darurat di lapangan.
Baca Juga : Hamas Tunjuk Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF GAZA Palestina
Menurut saksi mata, serangan berlangsung dalam beberapa gelombang sejak dini hari. Ledakan besar menyebabkan bangunan runtuh, kendaraan terbakar, serta memicu kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri.
Tim penyelamat dan relawan menghadapi kesulitan saat proses evakuasi akibat akses jalan yang rusak serta minimnya alat berat. Sejumlah korban dilaporkan masih tertimbun reruntuhan bangunan hingga berjam-jam setelah serangan berhenti.

Kesaksian Warga: Bapak Mencari Anak di Tengah Reruntuhan
Dampak kemanusiaan dari serangan ini turut terekam dalam unggahan video Joe Palestine, jurnalis warga yang aktif melaporkan kondisi Gaza melalui media sosial TikTok. Dalam salah satu videonya, Joe memperlihatkan seorang bapak yang terlihat putus asa mencari anaknya yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan akibat serangan udara.
“Seorang ayah terus memanggil nama anaknya di antara puing-puing bangunan yang runtuh. Tidak ada alat berat, hanya tangan kosong dan teriakan minta tolong,” ujar Joe Palestine dalam keterangannya.
Video tersebut memperlihatkan sang bapak berulang kali menyibakkan puing beton sambil berteriak, sementara warga sekitar mencoba membantu dengan peralatan seadanya. Hingga video tersebut diunggah, belum diketahui kondisi anak yang dicari.
Baca Juga : Resmi Gabung ISF! Indonesia Kirim Personel ke Gaza, Palestina
Pihak Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok bersenjata di Gaza. Militer Israel mengklaim target serangan berkaitan dengan aktivitas militan yang dinilai mengancam keamanan.
Namun, Hamas dan otoritas Palestina menolak tudingan tersebut dan menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.
Eskalasi di Tengah Rencana Pembukaan Rafah
Insiden 31 Januari terjadi di tengah rencana pembukaan terbatas perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir. Perlintasan tersebut dijadwalkan beroperasi secara parsial untuk memungkinkan evakuasi pasien sakit berat serta masuknya bantuan kemanusiaan.
Sejumlah pihak menilai eskalasi militer menjelang pembukaan Rafah berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah berada pada titik kritis.
Organisasi Kemanusiaan Soroti Perlindungan Warga Sipil
Berbagai organisasi kemanusiaan internasional menyatakan keprihatinan atas meningkatnya jumlah korban sipil. Mereka menekankan pentingnya perlindungan warga non-kombatan serta akses aman bagi bantuan medis dan pangan.
Hingga kini, jutaan penduduk Gaza masih menghadapi krisis berkepanjangan, mulai dari kekurangan air bersih, pasokan listrik terbatas, hingga layanan kesehatan yang belum pulih sepenuhnya.
Baca Juga : Gencatan Senjata Gaza Dipertanyakan, Israel Disebut Lakukan Ratusan Pelanggaran Sejak Oktober 2025
Pengamat Timur Tengah menilai peristiwa ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang berlaku masih sangat rentan. Tanpa mekanisme pengawasan yang efektif dan komitmen politik jangka panjang dari seluruh pihak, risiko eskalasi militer dinilai tetap tinggi.
Hingga berita ini diturunkan, situasi keamanan di Jalur Gaza masih belum stabil. Upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencegah meluasnya konflik dan memastikan gencatan senjata dapat benar-benar ditegakkan.




